KOMPAS.com - Nasional |
- "Blusukan" SBY Bagus, tapi Telat
- Demokrat Buka Peluang Capres Eksternal
- Ralat: 7 Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88
- "Ngotot" Calonkan Ical, Golkar Bisa Makin Pecah
- Penyederhanaan Parpol, Opini Menyesatkan
- SBY "Blusukan", Pencitraan Politik Merakyat
- 11 Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88
- Gerindra akan Jaring Caleg Lewat Iklan
| "Blusukan" SBY Bagus, tapi Telat Posted: 05 Jan 2013 08:22 AM PST JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengapresiasi langkah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mulai melakukan kegiatan blusukan ke masyarakat. Meski dinilai bagus, langkah Presiden SBY dinilai terlambat karena gaya blusukan sudah melekat pada sosok Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi). "Saya kira bagus walaupun agak terlambat. Kalau ada yang baik ditiru, kenapa enggak? Tidak ada kata terlambat untuk sesuatu yang baik," ujar Fadli, Sabtu (6/1/2013), di Jakarta. Fadli menilai sebaiknya Presiden SBY lebih sering melakukan kegiatan blusukan. Dengan melakukan blusukan, Fadli melihat banyak manfaat yang bisa diambil. Seorang pemimpin benar-benar bisa mengetahui hal yang dibutuhkan rakyatnya. "Saya kira ini bagian untuk pembelajaran politik. Hanya saya ada saran blusukan-nya benar-benar harus dadakan tidak perlu pakai upacara dan sebagainya," katanya. Seperti diberitakan, Presiden mendatangi Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Jumat pagi tanpa memberi tahu terlebih dulu para pejabat setempat. Saat iring-iringan Presiden dan para menteri bergerak menuju tempat itu, tidak ada sterilisasi jalan. Tak ada pula petugas kepolisian dan TNI yang berjaga-jaga di sepanjang jalan. Bahkan, ada beberapa polisi yang asyik duduk-duduk. Warga tetap beraktivitas seperti biasa. Ada yang mandi, mencuci pakaian, hingga buang hajat di salah satu kali yang dilintasi Presiden. Warga pun tampak kebingungan melihat iring-iringan kendaraan. Rombongan kemudian berhenti di persimpangan tak jauh dari gapura tanda memasuki Desa Tanjung Pasir. Tak ada penyambutan Presiden oleh para pejabat setempat. Setelah melihat Presiden dan Ny Ani Yudhoyono turun dari mobil, puluhan warga lalu berkerumun. Jumlahnya terus bertambah setelah kabar menyebar. Setelah berjabat tangan dengan warga, Presiden lalu mendatangi Teras Bank Rakyat Indonesia. Di sana, politisi Partai Demokrat itu menanyakan implementasi program pemerintah kredit usaha rakyat (KUR). Setelah itu, Presiden melihat kondisi perkampungan. Menurut Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga, Presiden bakal lebih agresif melakukan kunjungan kerja menemui rakyat di sejumlah daerah di sisa masa jabatannya hingga 2014. Selain itu, kegiatan seremonial dan protokoler juga bakal berkurang. "Presiden SBY akan memakai waktu terbaiknya dalam dua tahun ke depan untuk 'turba' alias turun ke bawah," kata Daniel di Jakarta, Jumat (4/1/2013), kepada Kompas.com. Turba adalah sebutan lain dari blusukan yang mulai dipopulerkan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Daniel mengatakan, ke depannya kunjungan kerja Presiden akan lebih banyak dilakukan tanpa pemberitahuan mengenai tujuannya. Editor : Erlangga Djumena |
| Demokrat Buka Peluang Capres Eksternal Posted: 05 Jan 2013 07:19 AM PST Demokrat Buka Peluang Capres Eksternal Penulis : Sabrina Asril | Sabtu, 5 Januari 2013 | 21:38 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Pada Pemilu 2014 mendatang, Partai Demokrat menyatakan terbuka terhadap pencalonan sosok calon Presiden eksternal. Persiapan untuk penentuan calon yang akan diusung akan diumumkan Partai Demokrat pada pertengahan atau akhir tahun 2013 ini. Demikian diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa, Sabtu (5/1/2013), dalam sebuah diskusi di Jakarta. "Sumber rekrutmen politik Demokrat tidak hanya internal tetapi juga memberikan ruang ke eksternal baik dalam Pilkada dan juga soal capres, kami membuka ruang bagi calon eksternal," ujar Saan. Sikap terbuka itu, lanjut Saan, dilakukan Demokrat bukan karena kehabisan figur yang dimiliki partai ini. Melainkan hanya untuk mencari pemimpin yang terbaik. "Kalau di internal partai tidak memungkinkan apakah harus dipaksakan. Selama eksternal punya visi dan pandangan yang sama, tidak bisa kami lepas begitu saja kalau memang bagus," ujar Saan. Anggota Komisi III DPR itu menuturkan syarat yang harus dimiliki bagi calon eksternal harus memiliki kapasitas, popularitas, hingga elektabilitas yang mumpuni. Ia harus dinilai lebih spesial jika dibandingkan kader-kader Demokrat yang ada. "Persyaratan eksternal harus lebih istimewa dari internal. Kalau sama saja kenapa harus dari luar tentu eksternal harus lebih segala-galanya," kata Saan. Untuk membicarakan persoalan calon Presiden, Saan mengatakan Partai Demokrat akan memutuskannya pada pertengahan atau akhir tahun 2013. "Ini dibicarakan tahun 2013 apakah konvensi atau bagaimana," imbuhnya. Editor : Erlangga Djumena |
| Ralat: 7 Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88 Posted: 05 Jan 2013 05:15 AM PST JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menembak mati tujuh orang terduga teroris di sejumlah kawasan dalam dua hari belakangan. Selain itu, empat orang berhasil ditangkap hidup petugas Densus. Pada berita sebelumnya, disebutkan terdapat 11 orang terduga teroris yang ditembak mati. Para terduga teroris ini diduga terkait jaringan teroris baru, yakni kelompok Poso yang dipimpin oleh Santoso. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar mengatakan, penangkapan bermula pada Jumat (4/1/2013). Dua teroris tewas ditembak di halaman Masjid Nur Alfiah, di dalam Rumah Sakit Wahidin, Makassar, sekitar pukul 10.30 Wita. Kedua orang yang diduga teroris itu ditembak lantaran melakukan perlawanan. Mereka adalah Abua Suaya dan Hasan alias Kholil. Penangkapan selanjutnya dilakukan pada hari yang sama pukul 14.30 Wita di Terminal Daya, Makassar, Sulawesi Selatan, terhadap Thamrin dan Arbain. Dari keterangan kedua orang ini, polisi kemudian menangkap Syarifudin dan Fadhli pada pukul 18.30 Wita. Pada saat hampir bersamaan, tim Densus juga melumpuhkan kawanan yang sama di Dompu, Nusa Tenggara Barat. Dua orang yang ditembak mati adalah Roy dan Bachtiar. "Terakhir hari ini pukul 07.00 ada tiga orang ditembak mati di Kebon Kacang, Kelurahan Kandai, Dompu, Nusa Tenggara Barat. Dari tiga orang yang tewas ini, satu sudah teridentifikasi atas nama Andi, sementara dua lainnya belum teridentifikasi. Dari tiga orang itu diamankan senjata api laras pendek jenis FN," ucap Boy. Di dalam proses penangkapan ini, polisi menyita barang bukti 1 bom pipa siap ledak, 4 bom pipa masih dalam perakitan, serta bahan-bahan bom, yaitu urea, asam nitrat, sodium, paku besi, dan baterai. "Kelompok ini terkait dengan pelatihan teroris di Poso, penyerangan Gubernur Sulawesi Selatan di Poso, dan melakukan aksi teror di daerah Dompu," ujar Boy. Catatan Redaksi: dengan demikian berita 11 Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88 kami cabut. Editor : Erlangga Djumena |
| "Ngotot" Calonkan Ical, Golkar Bisa Makin Pecah Posted: 05 Jan 2013 05:15 AM PST JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate Sukardi Rinakit mengatakan jika Partai Golkar terus bersikeras mencalonkan Ketua Umumnya, Aburizal "Ical" Bakrie menjadi calon presiden, itu hanya akan menghabiskan waktu. Pasalnya, konflik internal diperkirakan akan semakin menguat di antara tiga faksi yang ada di kubu Golkar. "Ada tiga faksi di Golkar yaitu Ical, JK, dan Akbar Tandjung. Kalau Ical tetap ngotot maju, pertentangan di internal akan semakin tinggi, perpecahan di Golkar akan terjadi," ujar Sukardi, Sabtu (5/1/2013), di Jakarta. Ia mengatakan, satu-satunya cara bagi Ical untuk mengukuhkan pencalonannya adalah dengan survei internal yang independen. Ical harus bekerja keras hingga Juli 2013, batas waktu yang diberikan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung untuk mendongkrak elektabilitasnya. "Kalau Ical sampai di bawah 10 persen, dia harus evaluasi diri. Harus dilihat sekarang yang jadi prospek adalah pemilih muda dengan rentang sampai 27 tahun," ujar Sukardi. Ia pun mengatakan, Golkar hanya akan menghabiskan tenaga, uang, dan waktu jika ternyata tetap tidak bisa mendongkrak popularitas Ical. Padahal, waktu lebih bermanfaat jika digunakan untuk konsolidasi partai. Golkar telah mendeklarasikan Aburizal "Ical" Bakrie sebagai calon presiden yang akan diusung partai berlambang pohon beringin ini. Namun, pencalonan Ical ini mengundang keraguan lantaran survei-survei tidak menempatkan Ical dalam posisi teratas. Elektabilitas Ical masih dinilai rendah. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung bahkan sudah mengirimkan surat kepada Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yang intinya meminta agar elektabilitas Ical segera ditingkatkan. Surat itu pun langsung diterima oleh Ical. Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Ade Komarudin membantah saat ditanyakan surat itu merupakan ultimatum Akbar ke Ical lantaran tingkat elektabilitasnya yang dinilai masih rendah dalam bursa calon presiden 2014. "Bukan ultimatum, hanya memberikan saran supaya meningkatkan elektabilitas," kata Ade beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan surat dari Akbar sifatnya hanya memberikan saran dan tidak bisa menggantikan keputusan musyawarah nasional (munas) yang menetapkan Ical sebagai kandidat capres yang diusung partainya. Surat dari Akbar itu masih belum dibahas secara resmi oleh DPP Golkar. "Nanti kami akan bahas sehabis tahun baru. Untuk menyikapi surat itu," kata Ade. Ia pun menampik tudingan elektabilitas Ical yang kian melorot. Menurut dia, selama ini hasil survei yang dilakukan partai selalu menunjukkan eletabilitas Ical yang terus meningkat. "Kami gunakan survei dari LSI yang hasilnya terus meningkat. Siapa bilang turun terus?" ujar Ade. Editor : Erlangga Djumena |
| Penyederhanaan Parpol, Opini Menyesatkan Posted: 05 Jan 2013 05:15 AM PST Partai Politik Penyederhanaan Parpol, Opini Menyesatkan Penulis : Stefanus Osa Triyatna | Sabtu, 5 Januari 2013 | 19:29 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Gagasan yang kerap digulirkan berupa wacana penyederhanaan partai politik hendaknya tidak sekadar dijadikan pijakan oleh Komisi Pemilihan Umum. Opini ini menyesatkan karena menyebabkan parpol nonparlemen ataupun parpol baru sudah didiskriminasikan untuk ikut menjadi peserta Pemilu 2014. Ketua Bidang Politik Partai Serikat Indonesia (SRI) Rocky Gerung mengatakan hal itu, mencermati wacana yang digulirkan di media massa. "Bahkan, yang patut disayangkan, ungkapan anggota KPU pun sudah cenderung melecehakan keberadaan parpol," kata Rocky, Sabtu (5/1/2013). Ia mencontohkan adanya komisioner yang menyatakan sudah bisa diperkirakan parpol mana saja yang bakal tersingkir dalam proses verifikasi. Pernyataan tersebut, menurut Rocky, jelas sudah dipengaruhi tendensi KPU bukan lagi sebagai wasit dalam penyelenggaraan pemilu, melainkan sudah menjadi tangan-tangan oligarki. Menurut dia, pers pun harus menempatkan posisinya secara tegas dan tepat agar tidak terbawa arus proses politik. Pengamat politik Wimar Witoelar mengatakan, pers adalah satu-satunya lembaga masyarakat yang mampu untuk mencegah pembunuhan partai politik. Namun, tidak dapat dimungkiri, ada pers yang sudah menjadi bagian dari oligarki. |
| SBY "Blusukan", Pencitraan Politik Merakyat Posted: 05 Jan 2013 02:24 AM PST JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) blusukan ke perkampungan nelayan di kawasan Tangerang, Jumat (4/1/2013), dinilai merupakan pencitraan gaya politik orang nomor satu di negeri ini. Dengan blusukan, Presiden Yudhoyono seolah menepis anggapan "politik tinggi" atau politik elitis yang selama ini melekat. Demikian disampaikan pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicate, Sukardi Rinakit, Sabtu (5/1/2013), di Jakarta. "Pak SBY ingin mengakhiri masa jabatannya dengan baik. Selama ini anggapan terlalu formalitis dan high politic mulai ditampik dengan kembali ke rakyat. Kegiatan blusukan ini untuk menepis citra politik tinggi itu," ujar Sukardi. Ia melihat tindakan yang dilakukan Presiden ini bisa berdampak tidak langsung bagi partai besutan SBY, Partai Demokrat. Partai yang kini krisis akan tokoh politik itu akan sedikit terbantu dengan blusukan yang dilakukan Presiden Yudhoyono. "Ini bagian dari stategi untuk endorser karena Demokrat enggak punya calon lagi untuk kembali menyentuh rakyat. Tindakan blusukan itu bisa mendongkrak Demokrat dan siapa pun calon yang akan dicalonkan SBY," ujarnya. Selain itu, Sukardi juga melihat gaya blusukan yang dilakukan Presiden ini merupakan salah satu bentuk dari efek Jokowi. Model blusukan ini pun ditengarai akan banyak ditiru dalam model pemilu di daerah-daerah. Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa menyatakan bahwa aksi blusukan Presiden Yudhoyono sama sekali tidak terkait dengan Partai Demokrat. "Itu tindakan yang dilakukan atas kesadaran pribadi Presiden. Bukan karena ingin mengangkat Demokrat," kata Saan saat dijumpai di Warung Daun, Cikini. Seperti diberitakan, Presiden mendatangi Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Jumat pagi tanpa memberi tahu terlebih dulu kepada para pejabat setempat. Saat iring-iringan Presiden dan para menteri bergerak menuju tempat itu, tidak ada sterilisasi jalan. Tak ada pula petugas kepolisian dan TNI yang berjaga-jaga di sepanjang jalan. Bahkan, ada beberapa polisi yang asyik duduk-duduk. Warga tetap beraktivitas seperti biasa. Ada yang mandi, mencuci pakaian, hingga buang hajat di salah satu kali yang dilintasi Presiden. Warga pun tampak kebingungan melihat iring-iringan kendaraan. Rombongan kemudian berhenti di persimpangan tak jauh dari gapura tanda memasuki Desa Tanjung Pasir. Tak ada penyambutan Presiden oleh para pejabat setempat. Setelah melihat Presiden dan Ny Ani Yudhoyono turun dari mobil, puluhan warga lalu berkerumun. Jumlahnya terus bertambah setelah kabar menyebar. Setelah berjabat tangan dengan warga, Presiden lalu mendatangi Teras Bank Rakyat Indonesia. Di sana, politisi Partai Demokrat itu menanyakan implementasi program pemerintah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Setelah itu, Presiden melihat kondisi perkampungan. Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bakal lebih agresif melakukan kunjungan kerja menemui rakyat di sejumlah daerah pada sisa masa jabatannya hingga 2014. Selain itu, kegiatan seremonial dan protokoler juga bakal berkurang. "Presiden SBY akan memakai waktu terbaiknya dalam dua tahun ke depan untuk 'turba' alias turun ke bawah," kata Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa di Jakarta, Jumat (4/1/2013), kepada Kompas.com. Turba adalah sebutan lain dari blusukan yang mulai dipopulerkan oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Daniel mengatakan, ke depan, kunker Presiden akan lebih banyak dilakukan tanpa pemberitahuan mengenai tujuannya. Editor : Erlangga Djumena |
| 11 Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88 Posted: 05 Jan 2013 12:35 AM PST 11 Terduga Teroris Ditembak Mati Tim Densus 88 Penulis : Sabrina Asril | Sabtu, 5 Januari 2013 | 15:15 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror menembak mati sebelas orang terduga teroris di berbagai kawasan dalam dua hari belakangan ini. Kesebelas terduga teroris itu diduga terkait jaringan teroris baru yakni kelompok Poso yang dipimpin oleh Santoso. Baca: |
| Gerindra akan Jaring Caleg Lewat Iklan Posted: 04 Jan 2013 11:33 PM PST Gerindra akan Jaring Caleg Lewat Iklan Penulis : Sabrina Asril | Sabtu, 5 Januari 2013 | 14:11 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Partai Gerindra akan melakukan penjaringan calon anggota legislatif (caleg) secara terbuka dalam menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 mendatang. Sistem rekrutmen secara terbuka ini akan dilakukan dengan cara memasang iklan di berbagai media massa. "Rekrutmen caleg akan diumumkan di media massa, akan dilakukan pendaftaran terbuka untuk caleg DPR, DPRD tingkat provinsi, dan DPRD kabupaten/kota," ujar Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon, Sabtu (5/1/2013), di sela-sela diskusi di Warung Daun, Jakarta. Ia menjelaskan bahwa pengumuman rekrutmen caleg akan disebarkan melalui iklan media massa mulai pekan depan hingga satu bulan mendatang. Kriteria caleg, lanjut Fadli, juga bersifat terbuka. "Semua bebas, kita kan partainya mewakili masyarakat. Jadi segmennya beragam mulai dari petani, buruh, nelayan, intelektual, akademisi, orang muda, hingga ibu-ibu boleh mendaftar," ucap Fadli. Menurut dia, sistem rekrutmen terbuka yang dilakukan Gerindra saat ini diharapkan bisa menampung bakal caleg yang berkualitas. Jika ternyata bisa meraup bakal caleg yang berkualitas, Fadli menuturkan, elektabilitas Partai Gerindra nantinya akan semakin meningkat. Sementara bagi politisi Gerindra yang kini sudah menjadi anggota DPR, DPRD tingkat provinsi dan kabupaten/kota akan mendapatkan prioritas. "Ini karena mereka sudah mendapat dukungan rakyat maka mereka mendapat semacam prioritas karena mereka juga sudah berinvestasi buat partai," ucapnya. |
| You are subscribed to email updates from KOMPAS.com - Nasional To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
No comments:
Post a Comment