KOMPAStekno |
- FBI Bisa Sadap Percakapan Ponsel Android
- Misteri di Pulau Motte Butuh Bantuan Anda
- Setelah Tablet, HP Siapkan Ponsel Android
- 10 "Smartphone" Paling Memuaskan, Apple atau Samsung Teratas?
- 7 Perusahaan TI "Haram" untuk Mantan Bos Microsoft
| FBI Bisa Sadap Percakapan Ponsel Android Posted: 03 Aug 2013 12:43 AM PDT KOMPAS.com — Penegak hukum Amerika Serikat (AS) menggunakan cara-cara canggih dalam menyelidiki kasus kejahatan siber. Biro Penyelidik Federal AS (FBI) dikabarkan bisa mendapat akses untuk memata-matai sebuah laptop atau perangkat Android yang dicurigai. Seorang sumber mengatakan kepada The Wall Street Journal (WSJ) bahwa FBI sedang mengembangkan program penyadap baru yang dipadu dengan software dari pihak swasta. Menurut sumber yang juga mantan pejabat keamanan digital AS itu, program terbaru FBI dapat mengaktifkan mikrofon laptop ataupun ponsel Android untuk merekam percakapan. WSJ telah meminta konfirmasi dari pihak FBI maupun Google, tetapi keduanya enggan berkomentar. Sumber WSJ menambahkan, FBI akan menggunakan alat penyadap ini untuk kasus kejahatan siber yang terorganisasi, pornografi anak, maupun terorisme. "FBI mempekerjakan orang yang memiliki kemampuan meretas, dan mereka membeli alat-alat yang mampu melakukan hal ini," tambah sumber itu. Untuk bisa menggunakan program penyadap ini, FBI membutuhkan surat izin dari pengadilan dan tetap berada di bawah pengawasan pemerintah. |
| Misteri di Pulau Motte Butuh Bantuan Anda Posted: 02 Aug 2013 11:09 PM PDT JAKARTA, KOMPAS.com - Studio pengembang game One Aperture tengah membutuhkan dukungan agar karya mereka berjudul "Motte Island" bisa lolos dalam Steam Greenlight dan didistribusikan secara digital. Meskipun bergenre horor, game ini punya kadar aksi yang tidak kalah banyak dengan sudut pandang yang unik. Steam Greenlight adalah inisiatif dari distribusi digital, Steam, untuk mendorong pengembang game indie melalui jalur distribusi mereka. Game yang masuk Greenlight melalui dukungan terbanyak akan didistribusikan meski masih separuh jadi. Dengan demikian, pengembang mendapatkan tambahan dana untuk merampungkan proyek mereka. Salah satu game yang pernah lolos di Steam Greenlight adalah Dread Out besutan Digital Hapiness dari Bandung. One Aperture sendiri adalah studio yang terletak di Amerika Serikat tapi berisi programmer dari Indonesia, hanya seorang programmer yang berada di Indonesia. "Kami sudah meluncurkan demo game yang bisa diunduh dengan kondisi 40 persen rampung," ujar Steve Lim, Project Manager Motte Island melalui korespondensi elektronik, Kamis (1/8). Mottte Island berkisah tentang Maxi, pria yang kembali ke kampung halamannya di Pulau Motte karena dihantui mimpi adik perempuannya yang memohon pertolongan. Sesampainya di sana, dia baru menyadari bahwa kota kecil tersebut ternyata memiliki rahasia yang mengerikan. Dan ternyata, baik Maxi maupun Sarah, adiknya, pun punya andil dalam rahasia kelam di Pulau Motte. Yang unik, permainan ini berlangsung dari sudut pandang tepat di atas karakter, kita hanya melihat kepala, pundak dan tangan tanpa terlihat wajah. Sekilas, sudut pandang ini mirip dengan seri awal "Grand Theft Auto" pada tahun 1997 yang sempat kembali marak dengan game "Hotline Miami" tahun ini. Steve mengakui bahwa Hotline Miami menjadi salah satu inspirasi dalam Motte Island selain game lain, seperti Silent Hill maupun Clock Tower, tapi baik jalan cerita secara penuh dikembangkan oleh mereka. "Kami berusaha menyuguhkan atmosfer yang mendukung melalui gaya visual yang intens dan mendetail," ujarnya. Pergerakan karakter menggunakan mouse, termasuk menggunakan senjata. Meskipun bergenre horor, dosis aksi dalam game ini terbilang banyak. Pada bagian awal, Maxi harus menyelinap dari pengawasan orang sementara begitu tiba di Pulau Motte, pertarungan dilakukan dengan terbuka. Di akhir demo, terungkap bahwa bukan manusia saja yang bakal dihadapi Maxi. Pengerjaan game saat ini sudah mencapai 90 persen. Steve merencanakan distribusi game ini melalui berbagai kanal seperti Desura dan Gamersgate selain Steam. Bahkan, Gamersgate sudah menyatakan kesanggupan untuk mendistribusikan Motte Island begitu rampung. Berminat mendukung Motte Island? Silakan kunjungi tautan ini. |
| Setelah Tablet, HP Siapkan Ponsel Android Posted: 02 Aug 2013 10:16 PM PDT KOMPAS.com — Setelah membuat tablet berbasis Android, produsen komputer Hewlett-Packard (HP) dikabarkan sedang merancang ponsel pintar Android. Menurut laporan media teknologi Digitimes asal Taiwan, ponsel Android HP akan dirilis pada semester kedua 2013. HP bekerja sama dengan perusahaan pemasok komponen asal Taiwan untuk mengembangkan ponsel tersebut. Sebelumnya, CEO HP Meg Whitman juga sempat mengatakan, pihaknya akan merilis ponsel pintar terbaru. Namun, hingga kini belum diketahui spesifikasi komponen dan ukuran layar dari ponsel Android buatan HP tersebut. Para analis pasar teknologi berpendapat, HP harus masuk ke industri perangkat mobile. Sebab, tren komputasi sedang menuju ke arah mobile, bahkan pengapalan perangkat tablet dan ponsel telah mengalahkan komputer pribadi. Langkah ini merupakan kedua kalinya HP membuat ponsel pintar. Pada tahun 2010, HP menghabiskan 1,2 miliar dollar AS untuk mengakuisisi perusahaan Palm dan merilis dua ponsel bersistem operasi WebOS pada 2011. Namun, ponsel WebOS ternyata tidak mendapat sambutan baik di pasar. HP menghentikan pengembangan WebOS dan melepas sistem operasi tersebut ke perusahaan LG pada Februari 2013. HP akhirnya mengakui keunggulan Android, dan untuk pertama kalinya mengadopsi Android di tablet HP Slate 7. Ini merupakan tablet yang dibekali spesifikasi kelas menengah dan dijual dengan harga relatif terjangkau. |
| 10 "Smartphone" Paling Memuaskan, Apple atau Samsung Teratas? Posted: 02 Aug 2013 08:36 PM PDT KOMPAS.com — Ponsel pintar iPhone bikinan Apple biasanya selalu menjadi langganan posisi puncak dalam survei-survei kepuasan konsumen. Namun, belakangan ini agaknya tren tersebut sudah mulai berubah. Seperti dilansir Forbes, menurut survei American Customer Satisfaction Index (ACSI) yang mempelajari model smartphone secara individu, iPhone telah tergusur oleh model-model perangkat Android bikinan Samsung. Posisi pertama dan kedua dalam ranking ACSI kini diduduki oleh Galaxy S III dan Galaxy Note II yang mengumpulkan skor 84 (skala 100). iPhone 5, iPhone 4S, dan iPhone 4 masing-masing duduk di urutan ketiga, keempat, dan kelima dengan perolehan skor 82, 82, dan 81. Adapun Galaxy S4 yang merupakan andalan terbaru Samsung belum diluncurkan saat survei tersebut digelar awal tahun ini. Direktur ACSI David VanAmburg mengatakan bahwa pengguna tertarik dengan layar berukuran besar pada ponsel-ponsel pintar Samsung. Harga—atau lebih tepatnya nilai yang dirasakan konsumen (perceived value)—perangkat bikinan merek Korea ini juga dipandang layak. Selebihnya, daftar 10 besar ponsel paling memuaskan (lihat tabel di bawah) dalam daftar ACSI diisi oleh Droid Razr Maxx HD dan Droid Razr dari Motorola, Galaxy SII dari Samsung, serta BlackBerry Curve dan Bold. Menurut VanAmburg, skor rendah yang diperoleh smartphone BlackBerry mencerminkan kesulitan produsen tersebut dalam mempertahankan relevansinya di dunia smartphone modern. "Ini bukan pertanda yang baik untuk BlackBerry," katanya. |
| 7 Perusahaan TI "Haram" untuk Mantan Bos Microsoft Posted: 02 Aug 2013 07:09 PM PDT KOMPAS.com — Pada November 2012, Steven Sinofsky mundur dari jabatannya sebagai Presiden Divisi Windows Microsoft. Namun, Microsoft tak membiarkan orang yang mengotaki pengembangan sistem operasi Windows 8 ini hengkang begitu saja. Seperti dikutip dari AllThingsD, Microsoft menyuruh Sinofsky berjanji melakukan beberapa hal setelah pensiun dari jabatan, di antaranya untuk tidak berbicara buruk mengenai Microsoft, tidak membujuk karyawan Microsoft agar bekerja di tempat lain, dan tidak menganjurkan konsumen untuk memilih produk kompetitor. Yang paling penting, dalam "persetujuan pensiun" dengan Microsoft, Sinofsky sendiri dilarang bekerja untuk tujuh perusahaan yang dipandang sebagai pesaing berat Microsoft, yaitu Amazon, Apple, EMC, Facebook, Google, Oracle, dan VMWare. Dia juga diberi daftar perusahaan rekanan yang tidak boleh dibujuk agar meninggalkan Microsoft, di antaranya IBM, Dell, Intel, dan Nokia. Larangan-larangan ini berlaku untuk sementara waktu sejak pengunduran diri Sinofksy, yaitu hingga 31 Desember 2013. Tentu, Sinofsky juga memperoleh insentif dari Microsoft. Pria berkepala plontos ini diberikan 418.361 lembar saham Microsoft senilai 14,2 juta dollar AS pada harga yang berlaku untuk perdagangan saat ini. Kabar terakhir menyebutkan bahwa Sinofsky telah memfinalisasi "persetujuan pensiun" dengan Microsoft. Seorang juru bicara Microsoft yang dikutip oleh The Verge menyatakan bahwa manfaat pensiun yang diperoleh Sinofksy sesuai dengan kebijakan Microsoft untuk pegawai yang telah bekerja selama setidaknya 15 tahun dan meninggalkan perusahaan saat berumur 55 tahun atau lebih tua. Sinofsky sendiri belum genap berusia 50 tahun saat meninggalkan Microsoft. Sinofsky kini mengajar di sekolah bisnis Harvard dan aktif menulis soal pengalaman di Microsoft melalui blog miliknya. |
| You are subscribed to email updates from KOMPAStekno To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
No comments:
Post a Comment