KOMPAStekno

KOMPAStekno


Samsung Resmi Kenalkan Jam Tangan Galaxy Gear

Posted: 04 Sep 2013 10:50 AM PDT

BERLIN, KOMPAS.com — Samsung Electronics memenuhi janjinya untuk memperkenalkan jam tangan pintar berbasis Android pertamanya, dalam acara IFA 2013 di Berlin, Jerman, Rabu (4/9/2013). Produk ini diberi nama Galaxy Gear.

Peluncuran ini membuat pertarungan di pasar jam tangan pintar semakin sengit setelah Sony mengeluaran produk jam tangan pintar yang diberi nama SmartWatch pada medio 2013 di Shanghai, China.

Wartawan Kompas.com Hindra Liauw mendapat kesempatan untuk menghadiri peluncuran Samsung Galaxy Gear dan Samsung Galaxy Note di IFA 2013 di Berlin.

Tampilan depan jam tangan pintar ini didominasi oleh layar berbingkai material logam. Layarnya menggunakan jenis AMOLED berukuran 1,63 inci.

Galaxy Gear bisa terhubung dengan ponsel pintar berbasis Android keluarga Samsung Galaxy melalui koneksi Bluetooth, termasuk Galaxy Note III dan Galaxy Note 10.1 2014 Edition.

Setelah terhubung dengan ponsel, pengguna dapat melakukan panggilan telepon dari jam tangan, menerima pesan singkat, jejaring sosial, membuat voice memo, menerima e-mail, hingga menerima semua notifikasi yang berasal dari ponsel di layar jam tangan.

Jam tangan yang dilengkapi dengan speaker mini pada bagian strap ini menggunakan sistem operasi Android 4.3 (Jelly Bean).

Samsung menyediakan ekosistem aplikasi untuk produk jam tangan pintarnya. Perusahaan asal Korea Selatan itu menjanjikan 70 aplikasi akan tersedia pada saat produk itu mulai dipasarkan.

Jam tangan pintar akan menjadi daya tarik tersendiri dalam industri teknologi. Selain Sony dan Samsung, perusahaan lain seperti Apple, Google, dan Microsoft, dikabarkan juga sedang menyiapkan produk jam tangan pintar.

Ini Rangkaian Produk Baru Sony di IFA 2013

Posted: 04 Sep 2013 09:31 AM PDT

KOMPAS.com — Sony "mengamuk" di ajang IFA 2013, yang saat ini sedang berjalan di Berlin, Jerman. Perusahaan asal Jepang ini langsung merilis berbagai produk sekaligus di ajang yang akan berlangsung hingga 11 September mendatang.

Xperia Z1

Perangkat yang menjadi primadona dalam ajang peluncuran tersebut adalah Xperia Z1. Sempat lama dirumorkan, Sony akhirnya benar-benar membuka tabir misteri perangkat tersebut.

Sony tampak sangat mengandalkan fitur kamera dari ponsel pintar andalan terbarunya ini. Ia dilengkapi berbagai hardware dan software pengambilan gambar yang sangat mumpuni.

Sony Xperia Z1 dilengkapi dengan sensor gambar sebesar 20,7 megapixel, prosesor gambar Bionz, aperfure F2.0, sensor kamera 1/2.3 inci, dan lensa G buatan Sony.

Dari segi spesifikasi hardware sendiri, perangkat yang sebelumnya dikenal dengan nama kode Honami ini menggunakan Snapdragon 800 2,2 GHz, RAM 2 GB, media penyimpanan internal 16 GB, dan berjalan di sistem operasi Android 4.2.2 Jelly Bean.

Xperia Z1 juga dipersenjatai layar 5 inci yang mendukung resolusi 1.920 x 1.080 pixel.

Lensa tambahan untuk smartphone dan tablet

Selain memperkenalkan ponsel pintar Android terbarunya, Sony juga merilis beberapa produk aksesori. Salah satunya adalah "modul upgrade" kamera untuk smartphone dan tablet. Produk tersebut memiliki bentuk seperti lensa, yang dapat ditempelkan di belakang smartphone dan tersambung ke perangkat pintar secara nirkabel.

Ada dua produk yang diperkenalkan di ajang tersebut, seperti dikutip dari Engadget, yaitu DSC-QX100 dan DSC-QX10. Perbedaan di antara keduanya terletak pada jenis lensa dan sensor.

DSC-QX100 disebut memiliki sensor 20,2 megapixel yang sama dengan yang tertanam pada kamera digital premium Sony RX100 Mark II, dipasangkan dengan lensa zoom 3x "Carl Zeiss".

Sementara, DSC-QX10 kabarnya bakal mengusung sensor 18 megapixel seperti pada kamera Sony WX150, dipadu lensa zoom 10x.

Produk lainnya

Selain kedua perangkat tersebut, Sony juga memperkenalkan tablet Windows 8 pertamanya, Vaio Tap 11. Perangkat ini memiliki layar berukuran 11 inci yang mampu mendukung resolusi Full HD, dan prosesor Intel Core. Produk ini juga dilengkapi dengan keyboard tambahan.

Sony juga memperkenalkan 4K Handycam, sebuah perangkat camcorder yang mampu mengambil video dengan resolusi 4K, berbagai seri TV 4K, dan juga proyektor 4K.

Iklan Kitkat Sindir Gaya Apple

Posted: 04 Sep 2013 06:07 AM PDT

KOMPAS.com - Secara mengejutkan, muncul pengumuman bahwa Google memilih "Kitkat" sebagai nama sistem operasi Android versi 4.4.

Kitkat adalah merek dagang milik perusahaan makanan Nestle, tapi tidak ada sejumlah uang yang dibayarkan dalam kesepakatan antara Google dan Nestle untuk penggunaan nama Kitkat.

Nah, sebagaimana dilaporkan Business Insider, menyusul pengumuman tersebut, Kitkat memermak situs resminya dengan segala macam penjelasan mengenai sejumlah "fitur" wafer berlapis cokelat yang kini ikut "terlibat" dalam industri mobile itu.

Sebuah video jenaka tak lupa dipublikasikan. Di dalamnya, "Chief Breaks Officer" Kitkat menjelaskan cokelat itu dengan gaya yang sangat mirip dengan kepala desain Apple John Ive ketika memperkenalkan produk iPhone, lengkap dengan alunan musik dan deskripsi "indah" mengenai produk yang bersangkutan.

"Setiap sudut, sisi, dan batang cokelat telah dirancang dengan sangat hati-hati dan dibuat untuk menciptakan pengalaman yang mendalam dari semua indera," bunyi salah satu kalimat dalam video tersebut.

Logo Android dan Kitkat ditampilkan di bagian akhir, melambangkan kerjasama antara dua perusahaan dari dua "dunia" berbeda di baliknya. Video iklan berisi sindiran terhadap pesaing di industri TI mungkin banyak ditemukan belakangan ini, tapi hal tersebut boleh dibilang belum pernah datang dari produsen makanan.

Simak video selengkapnya di bawah ini, berikut video perkenalan iPhone 5 oleh John Ive sebagai pembanding.

Pengguna Ponsel Indonesia "Rindu" Kualitas Internet

Posted: 04 Sep 2013 05:30 AM PDT

JAKARTA, KOMPAS.com — Pilihan tarif seluler atau data (internet) yang terjangkau tidak menjamin loyalitas pelanggan terhadap suatu operator telekomunikasi. Menurut penelitian yang dilakukan Ericsson ConsumerLab pada 2013, pengguna ponsel di Indonesia lebih mengutamakan kualitas jaringan.

Layanan dari operator telekomunikasi di Indonesia mengalami sejumlah masalah yang dapat mengurangi loyalitas pelanggan. Ericsson mencatat, ada tiga masalah yang sering dihadapi pengguna ponsel pintar di Indonesia. Pertama, akses internet sering kali lambat, bahkan gagal membuka halaman web. Kedua, lambat atau gagal mengunduh konten. Ketiga, aplikasi di ponsel sering kali menutup sendiri tanpa diperintah (crash).

Regional Head of Ericsson ConsumerLab South East Asia & Oceania, Afrizal Abdul Rahim, mengatakan, keluhan semacam ini berpengaruh pada kepuasan pelanggan. "Mereka bisa kelelahan karena harus menunggu lama proses munculnya konten," kata Afrizal dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (4/9/2013).

Karena itu, penting bagi operator seluler di Indonesia untuk meningkatkan kualitas jaringan. Menurut penelitian Ericsson, sebanyak 27 persen responden dari Indonesia mengutamakan kualitas jaringan untuk akses seluler dan data (internet) di ponselnya. Persentase itu lebih besar ketimbang value for money sebesar 12 persen atau faktor nilai yang diraih pelanggan dari harga yang ditawarkan operator.

"Dari sini bisa dilihat kinerja jaringan memiliki efek dua kali lebih besar terhadap loyalitas pelanggan ketimbang value for money," terangnya.

Faktor lain yang memengaruhi loyalitas pelanggan adalah komunikasi seputar layanan dari operator terhadap pelanggan (12 persen), pilihan tarif (9 persen), fitur manajemen akun (7 persen), penghargaan untuk pelanggan yang loyal (6 persen), initial purchase (6 persen), dan pembayaran serta penagihan (5 persen).

Penelitian yang terkait Indonesia dilakukan terhadap 2.053 responden dari sembilan provinsi, yaitu Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Keluhan

Laporan Ericsson ConsumerLab pada 2013 juga menunjukkan kinerja jaringan operator telekomunikasi di Indonesia belum sesuai harapan.

Sebanyak 79 persen pengguna ponsel pintar di Indonesia mengalami masalah setidaknya sekali dalam sepekan dan sebanyak 52 persen pengguna menyatakan menghadapi masalah jaringan seluler beberapa kali dalam sehari.

Sementara jika dibandingkan dengan 12 negara lain yang disurvei, persentase gangguan yang dialami pengguna cenderung lebih kecil, yaitu 61 persen responden menghadapi masalah jaringan satu kali dalam sepekan, dan 33 persen responden yang menyatakan menghadapi masalah jaringan setidaknya sekali dalam sehari.

Selain Indonesia, penelitian ini juga dilakukan di Brasil, Cile, China, Jepang, Meksiko, Rusia, Korea Selatan, Swedia, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat.

Setelah Nokia, Microsoft Incar BlackBerry?

Posted: 04 Sep 2013 01:27 AM PDT

KOMPAS.com — Microsoft menggelontorkan 7,2 miliar dollar AS untuk membeli bisnis ponsel Nokia. Akuisisi tersebut diharapkan dapat membantu menaikkan pangsa pasar global sistem operasi mobile Windows Phone hingga mencapai 15 persen pada 2018.

Namun, apakah Microsoft akan berhenti sampai di situ? Boleh jadi, raksasa software ini sedang merencanakan langkah selanjutnya.

Mengutip sumber-sumber "yang familier dengan persoalan tersebut", Bloomberg melaporkan bahwa Microsoft sedang mengamati BlackBerry. Produsen smartphone asal Kanada itu pada bulan lalu memang telah menyatakan sedang mencari calon pembeli.

Akan tetapi, kalaupun tertarik, Microsoft tidak bisa begitu saja mengakuisisi divisi ponsel BlackBerry.

"Nokia sudah memakai platform Windows dari Microsoft, jadi bisa langsung diintegrasikan," ujar analis Atlantic Equities, James Cordwell, yang dikutip oleh Reuters.

"Siapa pun yang mengakuisisi BlackBerry mungkin lebih tertarik dengan infrastruktur jaringan dan aset paten perusahaan itu dibanding bisnis handset miliknya, jadi mungkin skenario pembeliannya berbeda," tambah Cordwell.

Makin terancam

Fred Ketchen, Direktur Ekuitas ScotiaMcLeod, yang memiliki saham di BlackBerry, mengatakan bahwa akuisisi Microsoft atas Nokia telah meningkatkan spekulasi di pasar bahwa BlackBerry dan aset-aset mobile yang dimilikinya bakal menarik pembeli.

Saham perusahaan ini naik 2,2 persen dalam perdagangan tengah hari di Nasdaq, menyusul pengumuman akuisisi Nokia. Namun, hingga kini masih belum jelas, perusahaan mana yang tertarik dengan aset BlackBerry, kalaupun ada.

Di sisi lain, pembelian Nokia oleh Microsoft membuat tekanan terhadap BlackBerry makin meningkat. "Sumber daya yang disuntikkan Microsoft ke bisnis ini mungkin akan mempersulit BlackBerry," ujar analis teknologi Brian Colello dari Morningstar, yang dikutip oleh New York Times. "Akuisisi itu memberi dampak buruk untuk BlackBerry."

Pemain "kecil"

Dengan membeli Nokia, Microsoft mengikuti langkah Apple dalam hal mengontrol ekosistem hardware dan software secara end-to-end. Pembelian Motorola oleh Google beberapa waktu lalu disinyalir merupakan upaya menuju arah yang sama.

BlackBerry juga melakukan hal serupa, tetapi sejauh ini kurang berhasil. Kini, dengan bergabungnya Nokia dan Microsoft, serta masih belum jelasnya calon pembeli, Chris Umiatowski dari Crackberry mengatakan bahwa perusahaan itu tidak memiliki pilihan lain kecuali berusaha membuat terobosan besar di bisnis hardware atau "melempar handuk" dan beralih ke segmen software dan layanan.

Minggu lalu, direktur sekaligus anggota komite khusus BlackBerry, Bert Nordberg, mengatakan bahwa BlackBerry bisa selamat dengan beralih menjadi "pemain kecil" yang fokus ke segmen industri yang selama ini menjadi kekuatannya: enterprise dan sekuriti.

"Dalam sejarahnya, BlackBerry selalu punya ambisi besar, tapi raksasa-raksasa seperti Apple, Google, dan Samsung sulit disaingi," ujar Nordberg.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
- Gonjang-ganjing BlackBerry
- Microsoft Akuisisi Nokia

No comments:

Post a Comment