KOMPAS.com - Nasional |
- Boediono: Kompas Gramedia, Keberhasilan Usaha Komersial Tanpa Melupakan Idealisme
- \"Mengembangkan Indonesia Kecil\", dari Kompas Gramedia untuk Indonesia
- Syarief Hasan Tegaskan Tak Ada Calon Titipan di Konvensi Demokrat
- Demokrat: Ada Menteri, Jenderal, Dubes, Apa Masih Kurang?
- Fathanah Ditahan, Jazuli Terpaksa Lunasi Cicilan Prado
- Pramono Edhie Akui Didukung SBY
- KPK: Penahanan Andi Mallarangeng? Sabar...
- Jelang Konvensi, Dahlan Tak Kampanye, tetapi Perbanyak Makan Talas
| Boediono: Kompas Gramedia, Keberhasilan Usaha Komersial Tanpa Melupakan Idealisme Posted: 09 Sep 2013 08:02 AM PDT - Wakil Presiden Indonesia Boediono menyampaikan, usia setengah abad yang dicapai Kompas Gramedia sebagai sebuah perusahaan merupakan pencapaian yang luar biasa. Kompas Gramedia merintis usahanya dari sebuah perusahaan kecil yang disebut Boediono sangat bersahaja. "Sebuah cita-cita besar, kerja keras, dan ketekunan yang membuat Kompas Gramedia seperti sekarang, menjadi sebuah contoh keberhasilan usaha komersial, tanpa melupakan idealisme," kata Boediono di malam puncak perayaan HUT 50 tahun Kompas Gramedia, di Ballroom Ritz Carlton Hotel, Jakarta, Senin (9/9/2013) malam. Dari sebuah kantor kecil di Jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta Pusat, Kompas Gramedia kini berkembang dalam beragam bentuk usaha. Saat ini Kompas Gramedia memiliki dua surat kabar nasional, 24 stasiun radio yang tersebar di 17 kota di Indonesia, 105 toko buku yang tersebar di 40 kota di Indonesia, tujuh penerbit buku, lebih dari 55 media online, lebih dari 300 ribu anggota KG Value Card, 26 koran daerah, jaringan 17 stasiun televisi yang terpancar ke 80 kota di Indonesia, 55 hotel, 85 percetakan, satu pabrik tissue terbesar di Indonesia, dan satu universitas berbasis ICT (Information Communication Technology). Dalam membangun usaha yang omzetnya kini mencapai Rp 15 triliun per tahun, kata Boediono, Kompas Gramedia bekontribus besar dalam membangun opini publik dan karakter bangsa yang berdasarkan nurani rakyat. "Amanat Hati Nurani Rakyat" merupakan semboyan Harian Kompas. Semboyan itu, kata Boediono, merupakan tanggungjawab yang berat dalam perjalanan panjang dan berliku Kompas Gramedia selama 50 tahun. Jakob Oetama sang perintis yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris telah membuktikan mampu mengatasi segala tantangan yang dihadapi dengan baik. Dalam kesempatan itu, Boediono tak lupa menyampaikan salam hangat dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga merayakan ulangtahun tepat di hari ini. "Presiden memberikan salam hangat kepada seluruh karyawan Kompas Gramedia dan mendoakan agar sukses selalu. Dirgahayu Kompas Gramedia dan selamat berkarya bagi nusa bangsa," kata Boediono. Selain Boediono, turut hadir pada malam puncak perayaan HUT 50 tahun Kompas Gramedia, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno, Ketua DPR RI Marzuki Alie, sejumlah duta besar negara sahabat, dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia. Perayaan itu dimeriahkan oleh penyanyi Lea Simanjuntak, Barry Likumahuwa Project, Bondan and Fade 2 Black, dan sebagainya. Momen perayaan ulang tahun ini juga ditandai dengan peluncuran buku perjalanan 50 tahun Kompas Gramedia yang berjudul "Mengembangkan Indonesia Kecil". |
| \"Mengembangkan Indonesia Kecil\", dari Kompas Gramedia untuk Indonesia Posted: 09 Sep 2013 07:24 AM PDT JAKARTA, KOMPAS.com — Kompas Gramedia meluncurkan buku berjudul Mengembangkan Indonesia Kecil pada hari jadinya yang ke-50 tahun ini. Buku itu berkisah tentang perjalanan kelompok usaha yang didirikan oleh Jakob Oetama dan almarhum PK Ojong pada 50 tahun lalu. Buku setebal 446 halaman itu ditulis oleh tim penulis yang diketuai St Sularto. "Buku ini merefleksikan bagaimana perjalanan sebuah usaha, di mana tahun 1963 masih hanya berkisar 20 karyawan dan menjadi 21.000 karyawan di tahun 2013 ini," kata CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo dalam perayaan puncak hari ulang tahun ke-50 Kompas Gramedia, di Ballroom Ritz-Carlton Hotel, Jakarta, Senin (9/9/2013) malam. Agung menuturkan, catatan-catatan dalam buku tersebut merefleksikan tentang kerja keras yang didasari oleh semangat kemanusiaan. Hingga hari ini Kompas Gramedia tak henti menempatkan manusia dan kemanusiaan sebagai pilar utama budaya perusahaan. Buku itu juga bertutur bagaimana kemanusiaan menembus sekat-sekat suku, agama, ras, dan antar-golongan hingga akhirnya terbentuk Indonesia kecil di lingkungan kerja Kompas Gramedia. Menurut Agung, Kompas Gramedia hadir dalam kesamaan cita-cita, persepsi, dan impian, bersama semua potensi bangsa untuk ikut ambil bagian dalam mengembangkan Indonesia. Kebinekaan Indonesia dan penghormatan atas perbedaan bisa diwujudkan dalam lingkungan-lingkungan kecil. Agung berharap, buku yang disebutnya jauh dari sebuah catatan biografi itu dapat berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara. "(Buku tersebut dapat dipandang) sebagai refleksi ide besar dalam menjunjung kebinekaan dan wujud syukur kepada Tuhan yang lebih luas. Kami harapkan buku ini juga dapat menjadi inspirasi dan berkontribusi untuk Indonesia yang lebih baik," kata Agung. Dari sebuah kantor kecil di Jalan Pintu Besar Selatan, Jakarta Pusat, kini Kompas Gramedia berkembang dalam beragam bentuk usaha. Saat ini Kompas Gramedia memiliki dua surat kabar nasional, 24 stasiun radio yang tersebar di 17 kota di Indonesia, 105 toko buku yang tersebar di 40 kota di Indonesia, tujuh penerbit buku, lebih dari 55 media online, lebih dari 300.000 anggota KG Value Card, 26 koran daerah, jaringan 17 stasiun televisi yang terpancar ke 80 kota di Indonesia, 55 hotel, 85 percetakan, satu pabrik tisu terbesar di Indonesia, dan satu universitas berbasis information communication technology (ICT). Secara simbolis, Agung memberikan buku tersebut kepada Wakil Presiden Boediono yang hadir dalam acara tersebut. Selain Boediono, turut hadir pula Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno, sejumlah duta besar negara sahabat, dan para pejabat negeri ini. Editor : Heru Margianto |
| Syarief Hasan Tegaskan Tak Ada Calon Titipan di Konvensi Demokrat Posted: 09 Sep 2013 05:07 AM PDT JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Harian Partai Demokrat Syarief Hasan mengatakan, partainya sama sekali tidak menyiapkan calon tertentu untuk dimenangkan dalam Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Pernyataannya ini menepis anggapan bahwa Pramono Edhie Wibowo merupakan calon yang disiapkan oleh keluarga Cikeas. "Tidak ada, tidak ada yang direkomendasikan atau dititipkan. Yang jelas Partai Demokrat memberikan kesempatan kepada semua calon," ujar Syarief di Kompleks Parlemen, Senin (9/9/2013). Syarief mengatakan, yang menentukan siapa capres Partai Demokrat adalah masyarakat, bukan pengurus Demokrat. "Rakyat ini kan ada hampir 250 juta, kalau kau bisa menguasai 170 juta pemilih, baru jadi capres," kata Syarief. Menteri Koperasi dan UKM ini mengatakan, partainya memberikan kesempatan yang sama kepada semua kandidat untuk berkomunikasi dengan rakyat. Hal Ini untuk mengenalkan kandidat dan program yang akan dibawa. Terkait menteri yang ikut dalam konvensi, Syarief mengingatkan pesan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Pak SBY tidak ingin keikutsertaan mereka di konvensi mengganggu kinerja mereka," katanya. Sebelumnya, Komite Konvensi Capres Partai Demokrat sudah menetapkan 11 peserta konvensi. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat Pramono Edhie Wibowo menjadi kandidat yang kerap dikait-kaitkan kedekatannya dengan keluarga Cikeas. Dukungan kepada Pramono juga berasal dari Fraksi Partai Demokrat seperti Ketua Fraksi Nurhayati Ali Assegaf dan Sekretaris Fraksi Saan Mustopa. Tak hanya itu, Pramono bahkan didukung oleh Sekretaris Jenderal Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas. Pramono membantah bahwa ia menjadi calon yang dipersiapkan Partai Demokrat. "Andai seseorang hanya mengandalkan kedekatan dangan sang penguasa tanpa modal menjadi presiden Indonesia, sulit," kata Pramono. Mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu pun mengaku tak akan mengotakkan diri, meski ada faksi di internal Partai Demokrat. "Saya melihat dan berkomunikasi dengan kader-kader mereka tidak merasa terpecah. Kalau dukungan boleh, tapi jangan terpecah. Kalau ini semakin kuat kan Partai Demokrat makin besar," katanya. Editor : Inggried Dwi Wedhaswary Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: |
| Demokrat: Ada Menteri, Jenderal, Dubes, Apa Masih Kurang? Posted: 09 Sep 2013 04:55 AM PDT JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Harian DPP Partai Demokrat Syarief Hasan mengaku tak khawatir dengan anggapan sejumlah pengamat yang menilai peserta Konvensi Capres Partai Demokrat tidak bisa bersaing dengan kandidat-kandidat capres yang ada. Ia yakin para peserta konvensi mumpuni untuk menjadi pemimpin. Hanya saja, kata Syarief, peserta konvensi Demokrat butuh waktu untuk meningkatkan elektabilitas masing-masing. "Yang jelas yang terjaring ini sudah memiliki latar belakang yang cukup bagus. Ada yang menteri, jenderal, dubes, apa ini kurang merepresentasikan? Ada rektor, saya pikir ini sangat berkualitas. Ya memang berkualitas itu mungkin akseptabilitasnya kurang," ujar Syarief, di Kompleks Parlemen, Senin (9/9/2013). Menurut Syarief, sebagian besar peserta konvensi memang belum masuk dalam survei nasional. Namun, dengan sisa waktu yang ada, ia yakin para peserta konvensi bisa meningkatkan elektabilitasnya. "Karena ini kan belum launching, tanggal 15 nanti. Sekarang mereka kerja dulu ke rakyat," katanya. Menteri Koperasi dan UKM ini juga tak terlalu memikirkan tingginya elektabilitas politisi PDI Perjuangan Joko Widodo alias Jokowi sebagai kandidat capres 2014. "Saya tidak terlalu memikirkan itu, karena semua pasti menyiapkan yang terbaik. Partai Demokrat juga akan begitu," ujar Syarief. Seperti diberitakan, Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat telah menetapkan 11 peserta. Seluruh peserta ini akan dideklarasikan dalam acara launching Konvensi Partai Demokrat pada tanggal 15 September mendatang. Mereka adalah anggota Badan Pemeriksa Keuangan Ali Masykur Musa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, anggota Dewan Pembina PD Pramono Edhie Wibowo, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, dan Ketua DPR RI Marzuki Alie. Selain itu, ada juga anggota Dewan Pembina PD Hayono Isman, Ketua DPD Irman Gusman, mantan Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan. Tak populer Survei yang dilakukan Lembaga Klimatologi Politik (LKP) pada pertengahan Agustus 2013, menunjukkan, Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat tidak dikenal di mata publik. Popularitas konvensi itu berada jauh di bawah popularitas tokoh yang telah lebih dulu mendeklarasikan diri sebagai calon presiden. CEO LKP Usman Rachman mengungkapkan, hanya 40,8 persen responden yang mengaku tahu atau pernah mendengar tentang Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Lainnya, mengaku pernah mendengar tetapi tidak mengerti untuk apa Partai Demokrat menggelar konvensi. "Ternyata di mata publik hajatan penjaringan calon presiden yang diusung Partai Demokrat itu kurang dikenal. Dengan rendahnya popularitas konvensi maka tujuan Partai Demokrat untuk mendongkrak elektabilitas melalui konvensi tidak tercapai, dapat dikatakan elektabilitas Demokrat dalam beberapa bulan terakhir cenderung stagnan," kata Usman, di Jakarta, Senin (2/9/2013). Survei LKP dilakukan pada 12-18 Agustus 2013 lalu di 33 provinsi di semua Indonesia dengan mengambil sampel 450 responden melalui multistage random sampling. LKP mengklaim ambang kesalahan dari survei tersebut sekitar 4,6 persen dengan level kepercayaan 95 persen. Para responden merupakan mereka yang berusia di atas 17 tahun atau telah menikah. Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara via telepon dengan berpedoman pada kuisioner. Editor : Inggried Dwi Wedhaswary Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: |
| Fathanah Ditahan, Jazuli Terpaksa Lunasi Cicilan Prado Posted: 09 Sep 2013 04:49 AM PDT JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Jazuli Juwaini mengaku terpaksa melunasi cicilan Toyota Prado yang seharusnya dibayarkan Ahmad Fathanah ke dealer William Mobil. Jazuli terpaksa membayarkan sisa cicilan mobil mewah tersebut karena kontrak leasing mobil masih atas namanya dan Fathanah yang seharusnya meneruskan cicilan mobil tersebut, ditahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dan pencucian uang kuota impor daging sapi. "Kredit harus tetap jalan, AF (Ahmad Fathanah) sudah ditahan, jadi tidak mungkin dibayar. Di leasing atas nama saya, akhirnya saya harus lunasi sebagai bentuk tanggung jawab secara administrasi overcredit," kata Jazuli, saat bersaksi dalam persidangan kasus dugaan korupsi dan pencucian uang kuota impor daging sapi dengan terdakwa Fathanah di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Senin (9/9/2013). Jazuli mengungkapkan, dia menjual Prado kepada Fathanah dengan sistem over credit. Sesuai dengan kesepakatan, Fathanah membayarkan Rp 600 juta kepada Jazuli kemudian meneruskan pembayaran sisa cicilan mobil tersebut kepada William Mobil."Saya beli kredit. Seluruh harga termasuk asuransi sekitar Rp 900 jutaan. Ketika dijual ke Ahmad Fathanah, saya katakan nanti bayar kredit Fathanah yang lanjut," kata Jazuli. Kepada majelis hakim, Jazuli juga mengeluhkan Fathanah yang menurutnya beberapa kali telat membayarkan cicilan Prado ke William Mobil. "Tidak tepat waktu, saya lupa angkanya, tiga kali sekali Rp 50-40 juta tapi itu harus beberapa bulan. Molor saya, pusing jadi harus berapa bulan," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera ini. Sebelumnya, Jazuli mengaku telah menjual Prado tersebut kepada Fathanah karena butuh uang untuk membayar utang dana kampanye. Dalam kasus ini, Fathanah didakwa melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. Fathanah didakwa bersama-sama Luthfi menerima uang Rp 1,3 miliar dari PT Indoguna Utama terkait kepengurusan kuota impor daging sapi. Dia juga didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang dengan menempatkan, mentransfer, mengalihkan, membayarkan, dan membelanjakan harta kekayaan yang nilainya mencapai Rp 34 miliar dan 89.321 dollar AS. Diduga, harta tersebut berasal dari tindak pidana korupsi. Editor : Inggried Dwi Wedhaswary |
| Pramono Edhie Akui Didukung SBY Posted: 09 Sep 2013 04:39 AM PDT
"Kalau saya bilang enggak didukung (keluarga SBY), bohong. Kalau enggak didukung, yah enggak boleh ikut (konvensi). Andai ada saudara Anda yang maju sebagai calon bupati, didukung enggak? Sebagai saudara pasti dukung," kata Pramono saat berbincang-bincang dengan media di Jakarta, Senin (9/9/2013). Pramono mengatakan, ia memang diminta SBY ikut konvensi. Hanya, kata dia, sebagai Ketua Umum DPP dan Ketua Majelis Tinggi Demokrat, SBY tetap akan berada pada posisi yang seharusnya. Ke depan, selain mengampanyekan diri sebagai capres, Pramono mengaku ingin mengajak semua kader Demokrat untuk bekerja keras menghadapi Pemilu Legislatif 2014. Sebab, bakal capres hasil konvensi akan sulit didaftarkan ke KPU jika hasil pileg Demokrat tidak mencukupi syarat. Seperti diberitakan, pasca-memutuskan ikut dalam Konvensi Capres Demokrat, berbagai pihak mengaitkan Pramono sebagai adik ipar SBY. Sorotan miring pun diarahkan ke Pramono. Salah satunya, dengan jabatan Ketua Majelis Tinggi, SBY bakal memilih Pramono sebagai capres. Sebaliknya, Komite Konvensi memastikan semua peserta diperlakukan sama. Nantinya, penetapan capres terpilih dilakukan berdasarkan hasil survei oleh tiga lembaga survei yang dianggap kredibel. Editor : Inggried Dwi Wedhaswary Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: |
| KPK: Penahanan Andi Mallarangeng? Sabar... Posted: 09 Sep 2013 04:35 AM PDT JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum menjadwalkan pemeriksaan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan sarana dan prasarana olahraga di Hambalang. Pemeriksaan Andi sebagai tersangka kemungkinan akan berujung pada penahanan Andi yang telah ditetapkan KPK sebagai tersangka sejak Desember 2012. Pekan lalu, Ketua KPK Abraham Samad berjanji akan menahan Andi pada pekan ini. Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara KPK Johan Budi meminta untuk bersabar. "Sabar, ini baru hari Senin. Minggu ini masih panjang," kata Johan di Gedung KPK, Jakarta, Senin (9/9/2013). Johan membantah jika KPK dituduh tak serius dalam menangani kasus Hambalang. Menurutnya, Andi belum ditahan karena penahanannya belum dijadwalkan oleh KPK. "Ketua juga kan sudah statement akan dipanggil pekan ini," kata Johan. Andi sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan sarana dan prasarana olahraga di Hambalang sejak Desember 2012. Namun, KPK belum melakukan penahanan terhadapnya karena masih menuggu bukti berupa perhitungan kerugian negara terkait proyek Hambalang dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Kini, BPK telah menyerahkan perhitungan kerugian negara itu kepada KPK. Ketua KPK Abraham Samad mengatakan, laporan tersebut dapat menjadi bukti untuk membongkar kasus korupsi dalam proyek Hambalang. Dia menegaskan akan segera menjerat mereka yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Editor : Inggried Dwi Wedhaswary Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: |
| Jelang Konvensi, Dahlan Tak Kampanye, tetapi Perbanyak Makan Talas Posted: 09 Sep 2013 04:29 AM PDT JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan tak akan melakukan kampanye terkait keikutsertaannya dalam Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Menurut Dahlan, ia dilarang kampanye oleh para pendukungnya agar tetap fokus menjalankan tugasnya sebagai menteri. "Untuk konvensi, saya tidak akan berkampanye karena para relawan melarang saya untuk kampanye. Kata mereka, mereka saja yang kampanye sehingga saya bisa tetap kerja sampai selesai konvensi," ujar Dahlan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (9/9/2013). Tim sukses pun, kata Dahlan, dibentuk oleh para relawannya. Dahlan mengungkapkan, dengan cara ini, biaya kampanye bisa ditekan. Selain itu, tugasnya sebagai menteri juga tak terganggu. "Saya semaksimal mungkin akan seperti itu, tetapi saya tidak sampai pada tahap bersumpah. Ada kewajiban-kewajiban tertentu yang harus saya jalankan. Sepanjang tidak ada program yang diwajibkan ya saya tidak akan (cuti)," ujar Dahlan. Akan tetapi, bukan berarti ia tak melakukan berbagai persiapan. Menurutnya, menjelang konvensi pada 15 September mendatang, yang dilakukannya adalah makan talas sebanyak-banyaknya. "Saya makan talas dari Wamena tinggal 20 kilo lagi. Pagi-pagi sarapan talas kan enak, buat menguatkan batin," katanya. Seperti diberitakan, Komite Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat telah menetapkan 11 peserta. Seluruh peserta ini akan dideklarasikan dalam acara launching Konvensi Partai Demokrat pada tanggal 15 September mendatang. Mereka adalah adalah anggota Badan Pemeriksa Keuangan Ali Masykur Musa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, anggota Dewan Pembina PD Pramono Edhie Wibowo, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, dan Ketua DPR RI Marzuki Alie. Selain itu, ada juga anggota Dewan Pembina PD Hayono Isman, Ketua DPD Irman Gusman, mantan Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan. Editor : Inggried Dwi Wedhaswary Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: |
| You are subscribed to email updates from KOMPAS.com - Nasional To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |
No comments:
Post a Comment