KOMPAStekno |
- Galaxy S IV Sedang Diuji di Kominfo
- Apa yang Terjadi Saat Biologi dan Komputer "Kawin"?
- Galaxy S IV Punya Fitur Geser Layar dengan Mata?
- Twitter Matikan TweetDeck
- Bagaimana Mengendalikan Gadget Karyawan?
| Galaxy S IV Sedang Diuji di Kominfo Posted: 05 Mar 2013 09:35 AM PST JAKARTA, KOMPAS.com - Samsung diam-diam sedang bersiap menghadirkan ponsel pintar Galaxy S IV di Indonesia. Ponsel ini sedang dalam proses permohonan sertifikasi di Ditjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika. Dari pantauan KompasTekno di situs web Kemenkominfo, ada ponsel Samsung dengan kode GT-I9500 (nomor kode untuk Galaxy S IV) yang berstatus SP3 (Surat Pengantar Pengujian Perangkat). Galaxy S IV sedang diuji oleh Balai Besar Pengujian Perangkat Telekomunikasi (BBPPT) tertanggal 21 Februari 2013. Belum diketahui kapan ponsel ini resmi masuk pasar Indonesia. Namun, berkaca dari langkah Samsung sebelumnya, perusahaan ini terbilang cepat memasarkan ponsel andalannya di Indonesia.
Samsung akan meluncurkan Galaxy S IV pada 14 Maret 2013 di New York, Amerika Serikat. Kabar yang beredar di dunia teknologi mengatakan, Galaxy S IV akan menggunakan prosesor delapan inti (octa-core) kecepatan 1,8GHz. |
| Apa yang Terjadi Saat Biologi dan Komputer "Kawin"? Posted: 05 Mar 2013 08:30 AM PST Penulis: Arli Aditya Parikesit* KOMPAS.com - Bioinformatika adalah Ilmu baru yang menggabungkan Biologi Molekuler dan Ilmu Komputer. Artikel ini akan menceritakan mengenai bagaimana lahirnya ilmu Biologi Molekuler, yang merupakan salah satu pilar terpenting dari Bioinformatika itu sendiri. Bagaimana ceritanya? Mari kita simak! Ilmu Biologi, sebagai ilmu yang mempelajari makhluk hidup, telah mendapatkan turning point yang sangat menentukan di paruh abad ke 17-18 Masehi. Setelah selama ribuan tahun perkembangannya, biologi belum memasuki ranah molekuler, akhirnya 'telur telah pecah' dengan ditemukannya perkembangan-perkembangan yang sangat signifikan. Dimulai dengan ditemukannya mikroskop oleh Anton van Leeuwenhoek, seorang berkebangsaan Belanda, yang telah menyadarkan bahwa kehidupan sangat dimungkinkan terjadi pada skala mikro (mikrobiologis). Sementara itu, Robert Hooke, dari Inggris, telah menemukan Sel, yang merupakan unit kehidupan yang paling kecil. Kelahiran ilmu mikrobiologi dan biologi sel, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ilmu biologi, telah menyadarkan kalangan ilmiah, bahwa pasti ada suatu mekanisme molekuler yang terjadi, namun belum diketahui bagaimana cara atau prosesnya. Akhirnya, Ilmuwan memikirkan, bagaimana caranya informasi untuk menurunkan sifat-sifat pada organisme ditemukan, sebab hal inilah yang sudah pasti merupakan proses penting yang terjadi di sel. Pada abad ke 19, Ilmu Biologi mendapatkan 'durian runtuh' lagi. Dua intelektual 'raksasa', yaitu Charles Darwin dari Inggris, dan Gregor Mendel dari Austria, telah menemukan cabang ilmu Biologi Evolusi dan Genetika. Disatu sisi, Biologi Evolusi telah berhasil menjelaskan fenomena spesiasi, atau hadirnya spesies baru, sementara ilmu Genetika pada akhirnya berhasil menjelaskan mekanisme penurunan sifat (gen) pada makhluk hidup. Menjelang memasuki abad ke 20, akumulasi ilmu pengetahuan hayati ini akhirnya akan bertambah lagi. Sampai menjelang abad ke 20, ilmuwan masihlah berada dalam kebingungan, apakah materi genetik yang diturunkan oleh sel, kepada offspring mereka. Ilmuwan punya dua kandidat biomolekuer yang kuat sebagai materi genetik (gen), yaitu Protein dan DNA. Secara sepintas, ilmuwan mengobservasi bahwa kedua biomolekuler tersebut terlibat dalam proses genetika, hanya mana yang berperan sebagai materi genetika, hal tersebut belum diketahui. Akhirnya, sekelompok ilmuwan yang mempublikasi penelitian mereka secara independen, yaitu Avery, MacLeod, McCarty, dan Hershey/Chase berhasil menemukan bahwa DNA adalah materi genetik. Hal ini akhirnya membuka jalan bagi lahirnya dua 'selebritis' ilmu pengetahuan modern, yang juga dikenal sebagai ilmuwan yang mempopulerkan cabang ilmu Biologi Molekuler, yaitu James Watson dari Amerika Serikat, dan Francis Crick dan Inggris raya. Struktur double helix DNA telah ditemukan oleh Watson-Crick, dengan bantuan informasi dari Laboratorium Maurice Wilkins, bersama dengan salah seorang anggotanya, yaitu Rosalind Franklin. Akhirnya, Watson-Crick mendapatkan hadiah nobel, yang dibagi juga dengan Maurcie Wilkins. Sayangnya, Franklin tidak mendapatkan hadiah nobel bersama mereka, karena telah keburu meninggal dunia. Semenjak struktur DNA ditemukan, ilmu biologi molekuler akhirnya 'melaju' seakan tidak bisa dibendung lagi. Francis Crick akhirnya menemukan dogma sentral, yaitu mekanisme molekuler detail yang mengatur aliran informasi dari DNA, ke RNA, yang berujung kepada translasi Protein. 'Dogma' yang sesungguhnya bukan dogma akhirnya menjelaskan bagaimana peran DNA, RNA, dan Protein dalam biologi molekuler. Dengan demikian, apa itu gen, dan bagaimana mekanisme gen itu berlangsung telah menjadi jelas. Sementara itu, James Watson mengarang tiga buah buku text, yang banyak digunakan pada perguruan tinggi dan lembaga penelitian di seluruh dunia, yaitu Molecular Biology of the Gene, Molecular Biology of the Cell, dan Recombinant DNA. Terobosan Watson-Crick tersebut telah membuka 'pintu gerbang' pengetahuan yang tidak ada habisnya di ilmu biologi molekuler. Akhirnya, para pakar biologi molekuler menemukan teknik rekayasa genetika, yaitu cara memasukkan gen asing, kepada suatu organisme. Rekayasa genetika sudah melahirkan banyak terobosan dalam bidang ilmu pengetahuan, seperti tanaman transgenik dan hewan transgenik. Teknik transgenik ini, walaupun sangat kontroversial, namun juga tetap banyak digunakan. Sementara itu, rekayasa genetika telah membuka jalan untuk menghadapi berbagai penyakit. Teknik terapi genetika telah dikembangkan untuk itu. Sementara itu, rekayasa genetika telah memungkinkan produksi biochemicals yang sebelumnya tidak mungkin diproduksi, seperti produksi insulin. Nah, sekian lama perjalanan ilmu biologi molekuler telah melahirkan ledakan informasi biologis dalam skala besar. Urutan (sekuens) DNA, RNA, dan Protein dari hasil eksperimen laboratorium molekuler (wet experiment) telah menumpuk dalam besaran yang sangat luar biasa. Bagaimana mengatur ledakan informasi tersebut? Nantikan dalam tulisan selanjutnya. Tulisan ini merupakan bagian dari seri Bioinformatika di KompasTekno. Pembaca yang memiliki pertanyaan atau masukan mengenai topik ini bisa menghubungi penulis. *Tentang Penulis: Dr.rer.nat Arli Aditya Parikesit adalah alumni program Phd Bioinformatika dari Universitas Leipzig, Jerman; Peneliti di Departemen Kimia UI; Managing Editor Netsains.net; dan mantan Koordinator Media/Publikasi PCI NU Jerman. Ia bisa dihubungi melalui akun @arli_par di twitter, https://www.facebook.com/arli.parikesit di facebook, dan www.gplus.to/arli di google+. |
| Galaxy S IV Punya Fitur Geser Layar dengan Mata? Posted: 05 Mar 2013 07:48 AM PST KOMPAS.com - Selain dipersenjatai hardware yang mumpuni, smartphone terbaru Samsung, Galaxy S IV, juga akan dilengkapi dengan software yang canggih. Seseorang yang telah mencoba perangkat tersebut mengungkapkan, pengguna perangkat ini dapat menggulirkan (scroll) layar hanya dengan menggunakan mata, tanpa harus menyentuh layar. Dikutip dari NYTimes, Selasa (5/3/2013), menurut pegawai Samsung yang meminta namanya dirahasiakan, Galaxy S IV akan melacak mata pengguna untuk menentukan ke mana layar akan bergulir. Sebagai contoh, saat pengguna sedang membaca sebuah artikel dan pandangan mata mereka berada di ujung artikel, software canggih ini akan secara otomatis menggulirkan layar ke bawah untuk menampilkan paragraf selanjutnya. Sayangnya, sumber rahasia tersebut tidak mau membeberkan teknologi apa yang digunakan untuk mendeteksi pergerakan mata tersebut. Teknologi ini juga belum tentu akan didemonstrasikan pada peluncuran Galaxy S IV pada 14 Maret 2013 mendatang. Pada bulan Januari 2013 lalu, Samsung memang dikabarkan telah mendaftarkan hak paten di Eropa dengan nama "Eye Scroll". Paten tersebut kemudian didaftarkan juga di Amerika Serikat dengan nama "Samsung Eye Scroll" pada bulan Februari lalu. Paten ini dideskripsikan sebagai layanan "aplikasi komputer yang mampu mendeteksi pergerakan mata dan menggulirkan layar dari perangkat mobile, seperti ponsel, smartphone, dan tablet". Galaxy S IV sendiri dikabarkan akan menggunakan spesifikasi yang tinggi. Perangkat ini akan hadir dengan prosesor Exynos 5410 1,8GHz 8 core, RAM 2GB, chip grafis PowerVR SGX 544MP, layar 5 inci, kamera 13 megapiksel, dan sistem operasi Android 4.2 (Jelly Bean). |
| Posted: 05 Mar 2013 07:18 AM PST KOMPAS.com - Dalam sebuah posting blog bertanggal 4 Maret 2013, Twitter mengumumkan dihentikannya dukungan untuk aplikasi TweetDeck versi iOS, Android, dan desktop berbasis Adobe Air. TweetDeck akan ditarik dari toko aplikasi masing-masing platform mulai awal Mei 2013 mendatang. Setelah itu, aplikasi yang sudah terpasang di perangkat pengguna akan berhenti berfungsi. Twitter beralasan, aplikasi-aplikasi TweetDeck versi iOS dan Android dimatikan layanannya karena memakai Twitter API versi 1.0 yang bakal pensiun bulan Maret ini dan diganti dengan versi 1.1. TweetDeck versi Windows dan Mac tetap didukung, tetapi dua aplikasi ini sejatinya bukanlah aplikasi native, melainkan aplikasi web yang terbungkus shell browser. "Kami akan memfokuskan pengembangan pada versi TweetDeck berbasis web," tulis posting blog tersebut. Twitter menyarankan pengguna untuk beralih ke TweetDeck berbasis web dan Chrome yang disebut "menghadirkan pengalaman terbaik." Selain itu, sebagaimana dikutip dari Electronista, Twitter juga mengumumkan bakal mematikan dukungan integrasi Facebook untuk TweetDeck, termasuk versi Windows dan Mac. Hingga saat ini, TweetDeck memungkinkan penggunanya melakukan posting ke Twitter dan Facebook secara bersamaan. TweetDeck adalah aplikasi yang menggabungkan feed dari beberapa jejaring sosial sekaligus, seperti Twitter, Facebook, MySpace, dan LinkedIn. Aplikasi ini disukai karena memungkinkan pengguna meng-update status di jejaring-jejaring sosial tersebut dari satu tempat. Twitter mengakusisi TweetDeck pada bulan Mei 2011. Situs microblogging tersebut merogoh kocek sebesar 40 juta dollar AS dalam bentuk uang dan saham untuk membeli TweetDeck. |
| Bagaimana Mengendalikan Gadget Karyawan? Posted: 05 Mar 2013 07:09 AM PST KOMPAS.com - Salah satu masalah yang dihadapi perusahaan saat ini adalah perangkat beragamnya perangkat yang digunakan karyawan. Kebanyakan kantor, terutama di Indonesia, membolehkan karyawannya menggunakan gadget mereka sendiri untuk kebutuhan pekerjaan. Ini termasuk email, messaging (seperti BlackBerry Messenger) hingga terhubung ke jaringan kantor. Menurut laporan Citrix Workplace of The Future, 79 persen organisasi di Asia Pasifik akan mengadopsi gaya kerja mobile bagi karyawannya. Mark Micallef, Area Vice President, ASEAN, Citrix, mengatakan Indonesia adalah salah satu wilayah yang akan merasakan dampak besar. Penjualan smartphone di Indonesia, ujar Mark mengutip laporan Ericsson Consumer Lab, akan meningkat tiga kali lipat pada 2013. "Perusahaan harus mencari solusi yang memenuhi kebutuhan karyawannya, tapi juga menjaga keamanan dari sisi TI dan persyaratan manajemen," ujarnya dalam wawancara via email dengan KompasTekno. Citrix pun memperkenalkan solusi yang diberi label XenMobile. Solusi Mobile Device Management (MDM) ini dianggap bisa membiarkan pengguna memilih gadget sendiri, namun tetap terkendali. Mark mencontohkan, XenMobile MDM bisa membuat daftar hitam maupun daftar putih untuk aplikasi, mendeteksi dan melindungi adanya perangkat "jailbreak", hingga melakukan penghapusan perangkat yang hilang atau dicuri. Nah, apakah dengan demikian perangkat milik karyawan jadi seakan-akan dimiliki oleh perusahaan? Menurut Mark, salah satu hal penting yang bisa dilakukan perusahaan adalah membedakan antara perangkat milik karyawan dan perangkat milik perusahaan yang digunakan karyawan. Hal ini, ujarnya, memungkinkan perlakuan yang berbeda pada dua jenis perangkat tersebut. Misalnya, untuk perangkat milik perusahaan, saat sudah tidak aktif bisa dihapus sepenuhnya. Menurut Mark, XenMobile bisa diterapkan di lokasi atau berbasis awan. Hal ini tergantung dari kebutuhan dan sumber daya perusahaan. Jika penerapannya berbasis awan, Mark mengatakan waktu set-up bisa lebih cepat dan update produk akan lebih segera. Perusahaan pun tak butuh tambahan orang untuk penerapan dan manajemen perangkat. Dari sisi keamanan, dengan menerapkan XenMobile, perusahaan bisa melakukan pelacakan lokasi perangkat, penguncian jarak jauh hingga penghapusan data. |
| You are subscribed to email updates from KOMPAStekno To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610 | |

No comments:
Post a Comment